santri cilik tahfidz quran dicBeban berat hanya mungkin dipikul oleh orang yang kuat dan hebat. Tugas penting hanya mungkin dijalankan oleh orang pilihan. Amanah yang utama hanya mungkin dilaksanakan oleh orang yang memiliki keutamaan. Perintah istimewa juga hanya mungkin diemban oleh orang yang istimewa.

Beban berat, tugas penting, amanah utama, dan perintah istimewa tidak mungkin dipikul oleh orang lemah, sembarangan, berkualitas rendah, atau biasa-biasa saja.

Dakwah, adalah beban yang berat, tugas yang penting, amanah yang utama, dan perintah yang istimewa dari Allah swt. kepada orang-orang yang beriman. Dakwah hanya akan sukses dan dan berhasil mencapai tujuannya jika diemban oleh orang-orang yang kuat dan hebat, yang memiliki keutamaan dan keistimewaan; bukan oleh orang-orang yang lemah, sembarangan, berkualitas rendah dan biasa-biasa saja.

Dakwah ini hanya mungkin berhasil mencapai tujuannya jika diemban oleh orang-orang sekelas generasi para Sahabat ra. Di bawah kepemimpinan Rasulullah saw., para Sahabat ra. sebagai generasi terbaik terbukti berhasil mengemban tugas dakwah di Makkah hingga berhasil mendirikan Negara Islam di Madinah. Generasi terbaik yang mengabdikan hidup mereka sebagai para pengemban dakwah.

Karena itu, agar sukses dakwah hari ini sama dengan sukses dakwah yang diraih oleh para Sahabat ra., sudah selayaknya para pengemban dakwah hari ini meng-copy paste kepribadian mereka; baik dalam hal kualitas keimanan dan ketakwaan mereka.; banyaknya zikir dan taqarrub mereka kepada Allah swt.; kekhusyukan mereka dalam berdoa dan beribadah; keluasan ilmu agama mereka; banyaknya amal shalih mereka; keagungan perilaku dan akhlak mereka; besarnya semangat dan ghirah dakwah mereka; serta luar biasanya pengorbanan harta dan jiwa mereka di jalan Allah swt. Ketika para pengemban dakwah gagal dalam meng-copy paste seluruh keteladanan generasi para Sahabat ra. ini, maka keberhasilan dakwah sebagaimana yang mereka raih akan gagal pula diraih para pengemban dakwah.

Kesadaran Diri Sebagai Generasi Terbaik

Sebuah “gerbong dakwah”–terlepas dari nama dan bentuknya–sudah sewajarnya menyadari, bahwa aktivitas dakwah seringkali “terlihat lemah” bukan pada ide/gagasan ataupun jalan dakwah/perjuangan Islam itu sendiri. Kelemahan justru terletak pada sosok dan kepribadian sebagian pengemban dakwahnya.

Harus diakui, kualitas kepribadian sebagian pengemban dakwah masih amat jauh dari kepribadian generasi para Sahabat ra. Dengan kata lain, sebagian dari pengemban dakwah gagal meng-copy paste kepribadian generasi para Sahabat ra.

Penguasaan sebagian pengemban dakwah atas pemikiran Islam, misalnya, masih amat minim; yang tentunya tidak dapat dibandingkan dengan kefaqihan Sahabat Ali bin Abi Thalib kw., Ibn Abbas ra. ataupun Mu’adz bin Jabbal ra. Semangat belajar sebagian pengemban dakwah pun masih sangat lemah. Masih banyak dari para pengemban dakwah yang bahkan tidak pernah merasa tertantang sedikitpun untuk sekedar menguasai Bahasa Arab. Padahal salah satu faktor penyebab kemunduran sekaligus kebangkitan umat Islam adalah penguasaan mereka terhadap Bahasa Arab.

Masih banyak di antara para pengemban dakwah yang tidak juga termotivasi kuat untuk menguasai ulumul quran, ulumul hadits, fiqh, ushul fiqh dsb. Banyak punya diantara para pengemban dakwah yang sudah puas belajar ilmu Agama sekali dalam seminggu dalam kelompok-kelompok pengajian; bahkan kurang.

Akhlak sebagian para pengemban dakwah pun masih jauh dari akhlak para Sahabat ra., semisal Abu Bakar ash Shiddiq ra. Para pengemban dakwah mungkin masih sering kurang ikhlas, kurang sabar, kurang amanah, gampang emosi, berlaku kasar, berkata kotor dan memiliki pandangan mata yang “liar”

Shalat malam sebagian para pengemban dakwah belumlah seperti shalat malam para Sahabat ra., semisal Umar bin al Khaththab ra., yang tidak pernah terlewatkan dan seringkali dilalui dengan penuh kekhusyukan bahkan tangisan. Aktivitas membaca Al Quran sebagian pengemban dakwah belumlah sesering yang dilakukan para Sahabat ra., semisal Utsman bin Affan ra. yang bisa mengkhatamkan al Quran minimal seminggu sekali, terutama di tengah-tengah shalat malamnya.

Semangat berdakwah sebagian para pengemban dakwah juga belumlah seperti semangat para Sahabat ra. yang senantiasa bergelora. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Mushab bin Umair ra. ketika diutus oleh Rasulullah saw. berdakwah ke Madinah. Keberanian sebagian pengemban dakwah belumlah menandingi keberanian para Sahabat ra. semisah Ali bin Abi Thalib kw. yang pernah menggantikan posisi Rasulullah saw. di tempat tidur Beliau ketika Beliau mendapat ancaman pembunuhan oleh kafir Qurays.

Ketegaran sebagian pengemban dakwah belumlah selevel dengan ketegaran par Sahabat ra. semisal Abdullah bin Mas’ud ra. yang pernah sendirian menyerukan Islam di tengah-tengah sebuah pasar meski karena hal tersebut ia harus rela babak belur dipukuli oleh orang-orang kafir. Hebatnya lagi, hal itu ia lakukan tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Kesabaran sebagian pengemban dakwah dalam menanggung derita pun tidak sebanding dengan kesabaran para Sahabat ra. seperti Bilal bin Rabbah ra. atau keluarga Yasir ra.

Pengorbanan harta sebagian pengemban dakwah pun masih sangat jauh dibandingkan infak yang dikeluarkan para Sahabat ra. seperti Abdurrahman bin Auf ra. Beliau tercatat pernah menginfakkan hartanya sebanyak 40 ribu dinar atau sekitar Rp. 80 milyar. Ia pun pernah menghibahkan seluruh harta perdagangannya (termasuk emas dan perak) yang diangkut oleh 700 ekor unta untuk fakir miskin di kota Madinah. Itu belum termasuk infak beliau dalam sejumlah aktivitas jihad fi sabilillah yang tidak terhitung jumlahnya.

Jika Sahabat Abdurrahman bin Auf ra. berinfak secara royal seperti orang yang tidak takut miskin, sebagian pengemban dakwah malam pelit dalam berinfak karena khawatir ditimpa kemiskinan. Sebagian pengemban dakwah memang banyak yang bertekad untuk mencontoh Abdurrahman bin Auf ra., tetapi hanya dari sisi banyaknya harta kekayaan, bukan dalam hal besarnya infaknya yang amat luar biasa di jalan Allah swt.

Kesimpulan

Tentu daftar perbandingan tersebut masih dapat kita perpanjang dengan tetap secara konsisten menunjukkan perbandingan bagai bumi dan langit. Jika banyak dari perbandingan tersebut begitu melekatnya dengan kepribadian kita sehari-hari, sudah waktunya kita luruskan dan kuatkan niat untuk istiqomah meneladani para Sahabat ra. dan menjadi generasi terbaik zaman ini.

Wallahu a’lam bish shawab. Wa ma tawfiqi illa billah.

Dikutip dan ditulis ulang dari artikel berjudul, “Generasi Terbaik“, oleh Arief B Iskandar

 

Tags: , ,